Kenapa Harus Bangun Bisnis dari Nol, Kalau Sistemnya Sudah Ada?
9/22/20262 min read
Kalau mendengar kata “bisnis”, apa yang langsung terbayang di kepala Anda?
Punya produk sendiri.
Punya toko.
Punya gudang.
Punya karyawan.
Punya modal yang cukup besar.
Lalu mulai memikirkan sewa tempat, stok barang, pemasaran, sampai bagaimana mendapatkan pelanggan.
Kalau dibayangkan semuanya sekaligus, wajar kalau banyak orang akhirnya berpikir,
“Wah, saya nggak sanggup kalau harus mulai dari situ.”
Saya juga pernah berpikir seperti itu.
Karena selama ini kita memang sering melihat bisnis dari sisi pemiliknya.
Ada sebuah produk, ada perusahaan, ada toko atau kantor, ada tim yang bekerja di belakangnya. Semua terlihat seperti satu paket besar yang harus dibangun kalau kita ingin punya bisnis sendiri.
Padahal ada cara lain.
Kita tidak selalu harus membangun seluruh infrastrukturnya dari awal.
Coba kita lihat bisnis restoran.
Kalau ingin punya restoran sendiri, kita perlu memikirkan tempat, dapur, peralatan, bahan baku, karyawan, pemasaran, sampai operasional sehari-hari.
Tetapi kalau kita menjadi bagian dari jaringan franchise, sebagian besar sistem tersebut sudah dibuat oleh pemilik merek.
Kita masuk ke sistem yang sudah berjalan.
Nah, menurut saya, konsepnya kurang lebih menarik untuk dipahami ketika kita bicara tentang bisnis jaringan atau network marketing.
Perusahaan sudah membuat produknya.
Produknya sudah diproduksi.
Sistem distribusinya sudah dibuat.
Materi dan cara kerja bisnisnya bisa dipelajari.
Kita tidak perlu mendirikan pabrik. Tidak perlu membuat produk sendiri. Tidak perlu membangun gudang sendiri.
Kita masuk sebagai bagian dari jaringan distribusi yang sudah ada.
Buat saya, ini salah satu hal yang dulu kurang saya pahami ketika mendengar tentang bisnis jaringan.
Saya kira kalau mau punya bisnis, ya harus punya semuanya sendiri.
Setelah saya pelajari, ternyata ada model bisnis yang memang dirancang supaya orang bisa ikut menjalankan distribusinya tanpa harus membangun seluruh bisnis dari awal.
Tentu saja bukan berarti bisnisnya jadi otomatis mudah.
Tetap ada produk yang harus dipahami. Tetap perlu belajar menawarkan. Tetap perlu membangun hubungan dengan orang. Tetap ada aktivitas yang harus dilakukan.
Sistem yang sudah tersedia tidak berarti kita tinggal duduk dan menunggu hasil.
Justru kita mendapatkan kesempatan untuk fokus mempelajari bagian yang memang menjadi pekerjaan kita.
Itulah yang kemudian membuat saya tertarik menjalankan AFC Life Science sebagai salah satu income kedua.
Saya tidak perlu memulai dengan membuat produk sendiri.
Saya bisa memulai dengan mengenal produknya, memahami sistem distribusinya, belajar bagaimana cara menjalankannya, lalu melihat sejauh mana saya bisa berkembang di dalam sistem tersebut.
Saya sendiri masih belajar.
Dan menurut saya, itu justru membuat cara pandang ini lebih realistis.
Kalau kita sudah berusia 40 atau 50-an dan masih bekerja, mungkin kita memang tidak perlu mencari bisnis yang membuat kita harus membangun semuanya dari nol.
Waktu dan energi kita sudah terbagi.
Ada pekerjaan. Ada keluarga. Ada berbagai tanggung jawab lain.
Jadi ketika mencari income kedua, salah satu pertanyaan yang menurut saya layak diajukan adalah:
“Bagian mana yang sudah disiapkan oleh perusahaan, dan bagian mana yang harus saya bangun sendiri?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup membantu melihat sebuah peluang bisnis dengan lebih jernih.
Karena pada akhirnya, setiap model bisnis punya cara kerja dan risikonya masing-masing.
Bisnis ini juga begitu.
Tidak cocok untuk semua orang. Dan tentu saja bukan berarti karena infrastrukturnya sudah tersedia, kita dijamin pasti berhasil.
Tetap perlu belajar, bekerja, dan melihat apakah modelnya sesuai dengan kita.
Buat saya, yang menarik justru di situ.
Kita tidak selalu harus menjadi orang yang menciptakan seluruh bisnis.
Kadang kita bisa menjadi bagian dari bisnis yang sudah dibangun orang lain, lalu belajar bagaimana menjalankannya.
Itu yang saya lakukan sekarang.
Bukan membangun bisnis dari nol.
Saya memilih masuk ke sistem yang sudah ada, mempelajarinya, lalu melihat seberapa jauh saya bisa mengembangkannya.
Dan menurut saya, untuk seseorang yang sedang mencari income kedua, pilihan seperti ini layak dipelajari.
Bukan untuk langsung percaya.
Pelajari dulu cara kerjanya.
Baru putuskan apakah cocok untuk Anda.

