Saya Jago di Pekerjaan Saya. Tapi Kalau Disuruh Bisnis, Mulai dari Mana?
9/18/20262 min read
Pernah nggak Anda merasa sebenarnya kemampuan kerja Anda sudah cukup bagus, tapi begitu membayangkan punya bisnis sendiri malah bingung?
Di kantor, Anda tahu apa yang harus dikerjakan.
Anda paham pekerjaan Anda. Punya pengalaman. Tahu cara menyelesaikan masalah. Bahkan mungkin sudah sering menjadi tempat bertanya teman-teman di kantor.
Tapi ketika bicara bisnis, tiba-tiba muncul pertanyaan:
“Mulainya dari mana?”
Mau jualan, nggak tahu caranya.
Mau mencari pelanggan, bingung harus mulai dari siapa.
Mau bikin konten, merasa nggak bisa.
Mau menawarkan sesuatu kepada orang lain, malah merasa sungkan.
Nah, Ini menarik.
Karena ternyata menjadi orang yang kompeten dalam pekerjaan tidak otomatis berarti kita sudah memiliki semua kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis.
Dan menurut saya, itu hal yang sangat wajar.
Selama bekerja, kita memang dilatih untuk menguasai pekerjaan kita.
Seorang akuntan belajar soal keuangan.
Seorang sales belajar menjual produk perusahaan.
Seorang HR belajar mengelola orang.
Masing-masing punya keahlian sendiri.
Tetapi siapa yang melatih kita mencari pelanggan untuk bisnis pribadi?
Siapa yang mengajari kita membuat konten untuk membangun kepercayaan?
Siapa yang mengajari kita melakukan follow up tanpa terasa mengganggu?
Siapa yang melatih kita membangun relasi dengan orang yang sebelumnya tidak kita kenal?
Sering kali memang tidak ada.
Karena itu, saya melihat ada kesalahan cara berpikir ketika orang mengatakan, “Saya nggak bisa bisnis.”
Mungkin yang lebih tepat adalah: ada beberapa kemampuan bisnis yang memang belum pernah kita latih.
Dan sesuatu yang belum pernah dilatih tentu terasa sulit ketika pertama kali dilakukan.
Saya sendiri mengalaminya.
Saya berusia 53 tahun dan setelah bertahun-tahun bekerja, saya juga harus belajar banyak hal ketika mulai membangun penghasilan kedua.
Membuat konten, misalnya.
Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari saya harus belajar bagaimana membuat orang tertarik membaca atau menonton sesuatu yang saya buat.
Begitu juga dengan membangun relasi.
Di pekerjaan, kita biasanya bertemu orang karena memang ada urusan pekerjaan. Dalam bisnis, kita perlu belajar membangun hubungan terlebih dahulu sebelum bicara lebih jauh.
Itu pengalaman yang berbeda.
Saya kemudian sadar bahwa mungkin kita tidak perlu menunggu sampai merasa “siap” untuk mulai.
Yang kita perlukan adalah tempat untuk belajar sambil menjalankan.
Itu juga yang saya pertimbangkan ketika memilih AFC Life Science sebagai salah satu bisnis yang saya jalankan.
Saya tidak masuk dengan membawa semua skill bisnis yang sudah lengkap.
Saya belajar step by step.
Belajar mengenal produk. Belajar menjelaskan. Belajar membuat konten. Belajar berkomunikasi. Belajar membangun relasi. Belajar melakukan follow up.
Dan tentu saja, tidak semuanya langsung berhasil.
Ada yang saya coba lalu ternyata kurang bagus. Saya evaluasi, perbaiki, kemudian coba lagi.
Buat saya, justru di situlah proses belajarnya.
Karena kalau menunggu sampai semua skill dikuasai baru mulai, mungkin kita tidak akan pernah mulai.
Kalau Anda sekarang sudah bekerja dan mulai memikirkan income kedua, mungkin Anda tidak perlu bertanya, “Saya punya bakat bisnis atau tidak?”
Coba ganti pertanyaannya:
“Skill apa yang belum pernah saya latih?”
Lalu cari tahu apakah skill tersebut bisa dipelajari.
Kalau Anda tertarik dengan bisnis yang sedang saya jalankan di AFC dan ingin melihat bagaimana saya memulainya dari nol sebagai orang yang juga masih belajar, silakan hubungi saya.
Saya bisa ceritakan prosesnya apa adanya, termasuk apa yang saya pelajari dan bagaimana saya menjalankannya di tengah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

