Sebenarnya, Apa yang Anda Beli Saat Bergabung MLM?
9/27/20262 min read
“Kalau saya gabung MLM, saya sebenarnya beli apa?”
Menurut saya, ini pertanyaan yang bagus.
Karena sebelum bicara soal penghasilan, memang seharusnya kita tahu dulu apa yang kita dapat ketika mengeluarkan uang untuk bergabung.
Misalnya kita membeli franchise.
Kita membayar untuk mendapatkan hak menggunakan sebuah merek dan menjalankan bisnis dengan sistem yang sudah dibuat pemiliknya.
Kita tidak membuat resep sendiri. Tidak membangun merek dari nol. Tidak perlu memikirkan seluruh sistem operasional.
Ada sesuatu yang sudah tersedia dan tinggal kita pelajari serta jalankan.
Dalam MLM, logikanya juga menarik untuk dilihat dari sisi tersebut.
Perusahaan sudah memiliki produk dan membangun sistem distribusinya.
Kita kemudian masuk sebagai bagian dari jaringan yang mendistribusikan produk tersebut.
Jadi yang kita dapat bukan sekadar barang.
Ada produk yang bisa kita gunakan dan kenalkan.
Ada sistem yang mengatur bagaimana bisnis dijalankan.
Ada materi dan pelatihan yang bisa dipelajari.
Dan ada jaringan orang yang sudah lebih dulu menjalankan model tersebut.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan.
Semua fasilitas itu tidak menggantikan pekerjaan kita.
Kalau kita tidak mengenal produknya, kita akan kesulitan menjelaskannya.
Kalau tidak mencari pelanggan, tidak ada yang membeli.
Kalau tidak membangun hubungan, jaringan tidak akan berkembang.
Kalau kita ingin membangun tim, kita juga harus belajar membantu orang lain menjalankan bisnisnya.
Jadi, sebenarnya yang kita beli adalah kesempatan untuk masuk ke sebuah sistem bisnis yang sudah dibangun.
Apa yang terjadi setelah itu sangat tergantung pada bagaimana kita menjalankannya.
Saya melihat ini setelah menjalankan AFC Life Science.
Saya tidak perlu membuat produk sendiri atau membangun sistem distribusi dari awal. Bagian tersebut sudah tersedia.
Yang menjadi pekerjaan saya adalah mempelajari sistemnya dan menjalankan bagian yang menjadi tanggung jawab saya.
Dan di situlah saya menemukan hal yang cukup menarik.
Model bisnis seperti ini memungkinkan seseorang belajar bisnis tanpa harus terlebih dahulu menjadi pemilik pabrik, punya gudang, menyewa toko, atau membangun sebuah perusahaan lengkap dari nol.
Tentu saja ada biaya dan risiko yang tetap harus diperhitungkan. Dan tidak ada bisnis yang otomatis menghasilkan hanya karena seseorang sudah bergabung.
Karena itu, kalau ada yang menawarkan MLM kepada Anda, saya justru menyarankan pertanyaan yang sangat sederhana:
“Uang yang saya keluarkan ini untuk apa?”
Kalau jawabannya jelas, lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya:
“Setelah saya bergabung, apa yang harus saya kerjakan?”
Dari sana kita bisa mulai melihat bisnisnya secara lebih objektif.
Bukan dari janji penghasilan.
Bukan juga dari cerita sukses orang lain.
Tetapi dari model bisnisnya.
Bagi saya, itu cara yang lebih sehat untuk melihat MLM.
AFC adalah model yang saya pilih dan sedang saya jalankan. Orang lain tentu boleh mengambil keputusan yang berbeda.
Yang penting, pahami dulu apa yang sebenarnya Anda masuki.
Karena bergabung dengan sebuah bisnis dan menjalankan sebuah bisnis adalah dua hal yang berbeda.

